Jika beroperasi di tahun 2019, kereta cepat Jakarta-Bandung akan jadi yang pertama di Asia Tenggara dan di belahan bumi bagian selatan. Visi besar butuh lompatan besar

Potensi ekonomi yang besar di sepanjang jalur Jakarta dan Bandung menjadikan kedua kota tersebut sebagai tempat awal pembangunan transportasi massal kereta cepat (High Speed Train). Keberhasilan di jalur ini, tentu akan memudahkan pengembangan selanjutnya menuju kota-kota besar lainnya hingga ke ujung Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia.

“Kereta cepat Jakarta-Bandung adalah bagian dari rencana besar kita menghubungkan kota-kota besar di Jawa dan luar Jawa” kata Presiden Joko Widodo, Kamis tanggal 28 Januari 2015.

Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung bukan melulu persoalan membangun moda transportasi massal yang modern. Dalam jalur yang dilalui kereta tersebut, akan dibangun kota-kota baru sehingga tentunya akan dapat melahirkan pertumbuhan ekonomi baru.

Oleh karena itu, pembangunan kawasan yang dilalui jalur kereta cepat merupakan bagian integral dari pembangunan proyek ini. Ada empat stasiun yang akan dilalui kereta cepat, yakni Stasiun Halim-Stasiun Karawang-Stasiun Walini-Stasiun Tegalluar Kabupaten Bandung dan melewati sembilan kota/kabupaten di Jakarta dan Jawa Barat.

Salah satu proyek pembangunan kawasan yang tengah digagas adalah di Walini yang akan menjadi kota baru dengan jantungnya adalah pusat riset kesehatan dan obat-obatan, serta teknologi pertanian dan bioteknologi. Selain itu, Kabupaten Karawang diproyeksikan akan menjadi kota industri komponen atau kemasan.

Untuk menopang semua kegiatan tersebut tentu dibutuhkan banyak fasilitas, seperti hotel, apartemen, rumah sakit, kampus, sekolah, perkantoran, bisnis ritel, transportasi, serta area dan fasilitas publik lainnya. Pembangunan kawasan kota yang dilalui kereta cepat Jakarta-Bandung inilah yang akan menjadi contoh kesuksesan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan dan memberikan manfaat yang berlipat ganda.

Selain itu, konektivitas antar kota menjadi nilai lebih yang akan didapat dari pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Seperti di stasiun pemberhentian terakhir di Kabupaten Bandung, akan tersambung dengan moda transportasi light rail transit (LRT) menuju ke berbagai tempat di Bandung. Sedangkan di Jakarta akan terhubung pula dengan Mass Rapid Transport (MRT). Dengan demikian, kereta api cepat, serta LRT dan MR, baik di Bandung maupun di Jabodetabek, akan terkoneksi.

Di atas semua itu, pembangunan kereta cepat adalah bagian dari visi-misi Presiden dalam Nawacita untuk meningkatkan daya saing bangsa melalui pembangunan infrastruktur transportasi modern, yang akan mempercepat mobilitas warga. Kereta cepat adalah juga salah satu jawaban bagi upaya untuk melakukan efisiensi energi di masa depan – sebab melalui moda transportasi massal berbasis rel, terdapat kesempatan untuk menekan pemborosan energi fosil seperti yang terjadi dengan bus kota atau pesawat terbang.

Saat ini kereta cepat telah mulai diimplementasikan di 19 negara dunia. Dengan Tiongkok sebagi negara dengan penggunaan rel kereta cepat terpanjang di dunia, yaitu mencapai 19.000 kilometer yang telah beroperasi. Jika kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer kelak beroperasi pada tahun 2019 nanti, itu akan menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara dan di belahan bumi bagian selatan.

Selain Tiongkok, negara-negara lain yang memiliki rel kereta cepat terpanjang adalah Spanyol (sepanjang 3.100 km), Jepang (2.664 km), Perancis (2.036 km), Inggris (1.337 km), Jerman (1.334 km), Italia (923 km), Korea Selatan (819 km), Rusia (645 km) dan Finlandia (610 km). Dengan luas wilayah yang ada, dalam perkembangan selanjutnya, Indonesia tentu berpotensi masuk dalam daftar pemilik rel kereta cepat terpanjang.

Tentu saja bukan masuk daftar itu yang penting untuk dikejar. Tetapi jika ingin menjadi bangsa besar, tentu kita harus berani melakukan lompatan besar.